Saat itu, Dinda merasa sangat marah, malu dan terhina.
“Ahh..” gadis itu mendesah pelan saat Jalu mencabut penisnya dan pergi meninggalkannya begitu saja. Dinda mencoba bangkit dan berdiri walaupun rasa sakit dan ngilu masih terasa di sekitar selangkangannya. Dinda melihat bercak putih bercampur merah darah perawan di sekitar kemaluannya.
Mendadak kesadarannya hilang. Terdengar suara asing dari dalam dirinya. Dinda sudah tidak tahu apa-apa lagi. Yang ia tahu hanyalah ia telah gagal mengemban tugasnya sebagai seorang penyihir terakhir. Ia layak untuk mati.
***
"Kaukah yang memanggilku?"
Sosok besar berwarna hitam itu keluar dari tubuh Dinda. Wajah yang menyeramkan dan mengintimidasi, penuh dengan keanggunan sekaligus kebrutalan. Luak telah berhasil dibebaskan. Misinya telah berhasil. Jalu telah berhasil menjalankan misinya.
"Kau telah bebas, Luak." Jalu tertawa lirih. "Kau tahu kemana kau harus pergi dan berterima kasih, bukan?"
"Itu bukan urusanmu, ...
Baca cerita selanjutnya, dapatkan akses sekarang juga!
Beli keahlian
Akses dengan SMS
Tulis cerita
Dapatkan akses sepenuh dalam laman kami dari $15 sebulan! Akses sepenuh kepada semua cerita dan wayang gambar di arkib wayang kami yang besar!
Anda mempunyai kod promosi? Gunalah di sini!
Taip kod promo pada kotak di bawah.
Tuliskan cerita anda dan mendapat keahlian percuma untuk 24 jam
Pandangan ahli
Anda perlu login untuk memaparkan pandangan anda